BREAKING NEWS

Catatan Pemburu Makam

Pekerjaan ini tidak diwariskan dengan bangga, tidak pula diumumkan di pesta keluarga. Ia datang pelan, seperti rasa kalah yang diterima tanpa perlawanan.

Pekerjaan yang Tidak Pernah Dipilih Siapa pun

Tidak ada anak kecil yang bercita-cita menjadi pemburu makam.

Aku yakin akan hal itu.

Tak pernah ada yang berdiri di depan cermin sambil berkata, “Kelak aku ingin hidup di antara nisan, membaca nama-nama yang perlahan dilupakan, dan pulang dengan bau tanah basah di pakaian.” Pekerjaan ini tidak diwariskan dengan bangga, tidak pula diumumkan di pesta keluarga. Ia datang pelan, seperti rasa kalah yang diterima tanpa perlawanan.

Aku sampai di sini bukan karena ingin. Aku sampai karena tidak punya banyak pilihan.

Setiap kota punya orang-orang yang hidup di pinggir kesadaran bersama. Tukang gali, penjaga malam, pengangkut jenazah, dan mereka yang tahu jalan ke makam tanpa perlu bertanya. Kami adalah barisan sunyi yang bekerja ketika doa-doa selesai diucapkan dan pelayat mulai pulang.

Aku menyebut diriku pemburu makam bukan karena aku mengejar kematian. Aku hanya mencari yang tersisa setelah semua orang merasa sudah cukup berduka.

Aku pertama kali mengenal pemakaman bukan sebagai tempat suci, melainkan sebagai ruang kerja. Di sanalah aku belajar bahwa kematian tidak pernah sama bagi setiap orang. Ada yang diratapi bertahun-tahun, ada yang hanya dikenang selama tujuh hari, lalu ditinggalkan bersama bunga plastik yang warnanya pudar oleh matahari.

Makam-makam ini seperti arsip terbuka. Nama, tanggal lahir, tanggal mati. Garis pendek yang memisahkan hidup dan ketiadaan. Tapi tidak ada satu pun batu nisan yang menceritakan siapa mereka sebenarnya. Tidak ada yang menulis kegagalan, penyesalan, atau mimpi yang tak pernah tercapai.

Aku membacanya dari hal-hal kecil. Dari nisan yang jarang dibersihkan. Dari rumput yang dibiarkan tinggi. Dari foto yang retak karena hujan terlalu sering datang tanpa ada yang mengelapnya.

Di situlah pekerjaanku dimulai.

Sebagian orang mengira pemburu makam adalah pekerjaan kotor. Mereka tidak sepenuhnya salah. Tanganku akrab dengan tanah, kukuku sering menyimpan sisa lumpur yang tak hilang meski digosok berkali-kali. Tapi yang paling melekat bukan bau tanah. Yang melekat adalah cerita-cerita yang tak sempat diceritakan oleh mereka yang sudah pergi.

Setiap makam adalah sisa kalimat yang terpotong.

Dan aku, entah sejak kapan, mulai mengumpulkan potongan-potongan itu.

Aku tidak selalu datang untuk menggali. Kadang aku hanya duduk di bangku semen, memperhatikan nisan yang namanya nyaris tak terbaca. Ada kepuasan aneh ketika aku membersihkan lumut dari batu nisan orang yang bahkan keluarganya tak lagi ingat. Seolah-olah, untuk beberapa menit, seseorang yang mati sendirian diberi kesempatan untuk diingat kembali.

Aku tidak percaya pada hantu. Tapi aku percaya pada ingatan yang menuntut untuk didengar.

Orang-orang bertanya kenapa aku menulis.

Aku tidak menulis untuk menghidupkan yang mati. Aku menulis agar yang hidup tidak merasa sendirian ketika membaca kisah-kisah ini. Karena sesungguhnya, setiap orang sedang menuju tempat yang sama. Perbedaannya hanya soal siapa yang akan mengingat, dan berapa lama.

Catatan ini bukan tentang kematian. Ini tentang hidup yang tidak sempat selesai.

Dan aku adalah pemburu makam yang mencatatnya, satu per satu, sebelum semuanya benar-benar hilang.
Posting Komentar
ADVERTISEMENT
Designed by Perintis
ADVERTISEMENT
Designed by Perintis