BREAKING NEWS

Harga Naik, Konsumen Diprediksi Tunda Beli Smartphone Tahun Ini

Pengunjung melihat deretan smartphone di gerai penjualan ponsel

Jakarta, Perintis.co.id – Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) memperkirakan konsumen akan menunda pembelian smartphone seiring proyeksi kenaikan harga perangkat tersebut sepanjang tahun ini. Kondisi ini diprediksi berdampak pada penurunan volume penjualan, meski kebutuhan masyarakat terhadap perangkat komunikasi tetap tinggi.

Ketua Umum Idiec, Tesar Sandikapura, mengatakan kenaikan harga smartphone tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan masyarakat, namun mendorong perubahan perilaku konsumsi.

“Oleh sebab itu, konsumen cenderung menunda pembelian,” ujar Tesar.

Ia menambahkan, konsumen juga berpotensi beralih ke merek lain, memilih model lama, atau turun ke segmen harga yang lebih rendah. Meski demikian, pasar smartphone Indonesia dinilai relatif tangguh, namun akan semakin sensitif terhadap harga, terutama di segmen menengah ke bawah.

Tekanan Global dan Domestik Dorong Harga Naik

Menurut Tesar, kenaikan harga smartphone dipicu kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, terjadi kelangkaan pasokan semikonduktor karena kapasitas produksi chipset banyak dialihkan untuk memenuhi kebutuhan industri kecerdasan buatan, pusat data, dan komputasi berkinerja tinggi.

Sementara dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya biaya logistik, serta tingginya ketergantungan terhadap impor komponen turut memperbesar tekanan harga di pasar domestik.

Idiec memprediksi kenaikan harga dan keterbatasan pasokan komponen global berpotensi menekan penjualan smartphone di Indonesia sekitar 5 hingga 10 persen secara tahunan. Secara umum, kenaikan harga diperkirakan berada di kisaran 5 hingga 15 persen, dengan dampak paling terasa pada segmen menengah dan flagship.

Strategi Produsen dan Peran Pemerintah

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Tesar menyebut sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan produsen smartphone, mulai dari efisiensi rantai pasok dan diversifikasi sumber komponen, optimalisasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN), hingga peningkatan perakitan lokal.

Produsen juga dinilai perlu menawarkan varian produk dengan spesifikasi seimbang dan harga yang lebih kompetitif, serta menghadirkan skema pembiayaan yang lebih fleksibel bagi konsumen.

Dari sisi pemerintah, peran penting yang diharapkan antara lain menjaga stabilitas nilai tukar dan iklim impor komponen strategis, memberikan insentif bagi industri perakitan dan manufaktur lokal, serta mempercepat penguatan ekosistem semikonduktor nasional dalam jangka menengah hingga panjang.

Sinyal Global Tekanan Industri Smartphone

Sebelumnya, pada November 2025, manajemen Xiaomi telah memperingatkan potensi kenaikan harga smartphone secara global seiring meningkatnya harga chip memori akibat lonjakan permintaan dari sektor kecerdasan buatan.

Presiden Xiaomi, Lu Weibing, menyebut tekanan biaya pada industri smartphone diperkirakan akan lebih besar pada 2026 dibandingkan 2025.

Sementara itu, Counterpoint Research memprediksi pengiriman smartphone global akan turun 2,1 persen pada 2026, dipicu oleh kenaikan biaya komponen dan melemahnya daya beli konsumen. Segmen pasar kelas bawah dengan harga di bawah US$200 disebut menjadi yang paling terdampak akibat lonjakan biaya material hingga 20–30 persen.(*)
Posting Komentar
ADVERTISEMENT
Designed by Perintis
ADVERTISEMENT
Designed by Perintis