Menggali Budaya yang Terpinggirkan
Budaya tidak selalu hidup di panggung besar, festival meriah, atau poster pariwisata. Ia justru sering bertahan di ruang-ruang sunyi, di desa yang jarang disebut, di kebiasaan kecil yang perlahan dianggap usang. Di sanalah budaya yang terpinggirkan bernafas pelan, menunggu untuk kembali dilihat.
Di banyak tempat di Indonesia, budaya hidup bukan karena disorot, tetapi karena dijalankan. Ia ada dalam cara orang menyapa tetangga, dalam ritual sederhana sebelum panen, dalam tarian yang hanya dipentaskan saat hajatan desa. Namun ketika arus modernisasi datang membawa standar baru tentang apa yang layak ditampilkan, banyak praktik budaya lokal Indonesia ini tersingkir tanpa pernah benar-benar diberi kesempatan bertahan.
Budaya yang terpinggirkan bukan budaya yang mati. Ia hanya kehilangan ruang.
Ketika Tradisi Tidak Lagi Dianggap Relevan
Perubahan zaman kerap datang dengan ukuran-ukuran baru. Efisiensi, popularitas, dan nilai ekonomi menjadi penentu utama. Tradisi yang tidak memenuhi ukuran itu perlahan dianggap beban. Tidak sedikit generasi muda yang tumbuh tanpa mengenal tradisi budaya daerah di lingkungannya sendiri karena dianggap kuno atau tidak menjanjikan masa depan.
Padahal, di dalam tradisi itulah tersimpan nilai-nilai yang membentuk identitas: kebersamaan, penghormatan pada alam, serta cara memaknai hidup yang tidak selalu diukur dengan hasil materi.
Budaya Lokal dan Ketimpangan Perhatian
Tidak semua budaya mendapat panggung yang sama. Beberapa diangkat dan dirawat karena dianggap representatif atau memiliki daya tarik wisata. Sementara yang lain dibiarkan berjalan sendiri, tanpa dokumentasi, tanpa regenerasi, tanpa dukungan. Kondisi ini membuat pelestarian budaya lokal berjalan timpang.
Ketika perhatian hanya tertuju pada budaya tertentu, yang lain perlahan menghilang tanpa pernah dicatat secara layak.
Mereka yang Menjaga dalam Sunyi
Di balik budaya yang masih bertahan, selalu ada orang-orang yang bekerja tanpa sorak. Seniman desa, tetua adat, penari yang melatih anak-anak tanpa bayaran, atau warga yang tetap menjalankan ritual meski hanya dihadiri segelintir orang. Mereka inilah penjaga kearifan lokal yang sering luput dari perhatian.
Tanpa kehadiran mereka, banyak praktik budaya mungkin sudah berhenti hidup jauh sebelum dikenali generasi berikutnya.
Menggali Bukan Menggali Ulang, tapi Mendengarkan
Menggali budaya yang terpinggirkan bukan berarti menghidupkan kembali masa lalu secara utuh. Ini tentang mendengarkan, mencatat, dan memberi ruang agar budaya itu bisa beradaptasi dengan zamannya sendiri. Pendekatan ini sejalan dengan upaya pelestarian budaya Indonesia yang lebih berkelanjutan.
Budaya tidak harus dibungkus megah agar bernilai. Ia cukup dipahami dan diberi ruang untuk tumbuh.
Peran Media dan Generasi Baru
Media memiliki peran penting dalam menentukan budaya mana yang terlihat dan mana yang terus berada di pinggir. Dengan memberi ruang pada cerita budaya lokal, praktik tradisi, dan suara yang jarang terdengar, media dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Bagi generasi baru, mengenali budaya bukan soal kembali sepenuhnya ke masa lalu, tetapi soal memilih nilai apa yang layak dibawa ke depan.
Menjaga agar Tidak Hilang dalam Diam
Budaya jarang mati secara tiba-tiba. Ia menghilang perlahan, dalam diam, ketika tidak lagi dibicarakan dan tidak lagi dijalankan. Menuliskan dan membicarakan budaya yang hampir punah adalah langkah awal untuk mencegah kehilangan itu.
Menggali budaya yang terpinggirkan berarti memberi kesempatan kedua pada cerita-cerita yang hampir terlupa. Bukan untuk mengulang masa lalu, tetapi agar kita tahu dari mana kita berasal sebelum melangkah lebih jauh ke depan.
