BREAKING NEWS

Harga Emas Jungkir Balik Usai Cetak Rekor, Wall Street Malah Ramal Tembus USD 8.000

Grafik pergerakan harga emas dunia 2025–2026

Jakarta, Perintis.co.id - Harga emas dunia kembali memainkan drama klasiknya. Setelah mencetak all time high (ATH) baru, logam mulia ini justru tergelincir tajam pada akhir pekan lalu. Fluktuasi cepat itu membuat investor bertanya-tanya: apakah ini sinyal bahaya, atau justru peluang emas yang menyamar?

Meski pergerakan jangka pendek tampak liar, optimisme jangka menengah hingga panjang justru menguat. Mengutip laporan Yahoo Finance, survei terhadap perusahaan-perusahaan Wall Street menunjukkan proyeksi kenaikan harga emas hingga 17% dari level akhir 2025.

Mengapa Harga Emas Sempat Melejit ke Rekor Tertinggi?

Lonjakan harga emas tidak terjadi dalam ruang hampa. Ada beberapa mesin besar yang mendorongnya:

Bank Sentral Borong Emas
Bank sentral, terutama di Asia, agresif membeli emas sebagai lindung nilai atas melemahnya mata uang. Tiongkok dan India berada di barisan depan, dengan budaya kepemilikan emas yang sudah mendarah daging.

Permintaan Fisik dari Asia
Di India dan Tiongkok, emas bukan sekadar aset, melainkan simbol stabilitas dan status. Ketika ketidakpastian global meningkat, emas kembali jadi pelabuhan tenang.

Masuknya Dana Lindung Nilai
Hedge fund mulai memperluas portofolio mereka. Emas diposisikan sebagai kelas aset alternatif di tengah pasar saham, obligasi, dan properti yang makin volatil.

Prediksi Wall Street: Emas Masih Punya Bahan Bakar

Wall Street dikenal penuh senyum optimisme, dan kali ini emas menjadi bintang utamanya. Defisit fiskal besar, ketegangan geopolitik, serta pelemahan dolar AS menjadi pupuk subur bagi reli emas.

Beberapa proyeksi bahkan terdengar ambisius:

Jeurg Kiener (Swiss Asia Capital) memperkirakan harga emas bisa menyentuh USD 8.000 per ons pada 2028.

Yardeni Research memproyeksikan emas mencapai USD 6.000 dalam waktu dekat.

Daftar Prediksi Harga Emas (Sebagai Referensi)

Sejumlah lembaga keuangan global juga merilis proyeksi mereka:
  • Jefferies Group: USD 6.600 (naik 52,04%)
  • Yardeni Group: USD 6.000 (naik 38,21%)
  • UBS: USD 5.400 (naik 24,39%)
  • JPMorgan Chase: USD 5.055 (naik 16,45%)
  • Bank of America: USD 5.000 (naik 15,18%)
  • Goldman Sachs: USD 4.900 (naik 12,57%)
  • Morgan Stanley: USD 4.800 (naik 10,57%)
  • Wells Fargo: USD 4.500–4.700
Rentang prediksi ini menunjukkan satu benang merah: emas masih dipandang atraktif.

Jadi, Saatnya Beli atau Jual?

Jawabannya bergantung pada niat dan horizon waktu. Untuk investor jangka panjang, koreksi tajam justru sering dipandang sebagai jeda napas sebelum lari berikutnya. Namun bagi trader jangka pendek, volatilitas tinggi berarti risiko juga membesar.(*)

Emas saat ini ibarat koin yang sedang diputar di udara. Belum jatuh, belum berhenti. Yang jelas, sorotan dunia masih tertuju padanya, dan kisahnya belum selesai.
Posting Komentar
ADVERTISEMENT
Designed by Perintis
ADVERTISEMENT
Designed by Perintis