BREAKING NEWS

Bau Nyale: Jejak Cinta Putri Mandalika dalam Pesta Rakyat Sasak

Bau Nyale: Jejak Cinta Putri Mandalika dalam Pesta Rakyat Sasak
Suasana Bau Nyale Pantai Kaliantan, Lombok Timur 

Lombok, 08 Februari 2026 — Setiap tahun, ketika angin musim berhembus kencang dan rasi bintang menunjuk pada waktu yang tepat, pesisir selatan Lombok berubah menjadi lautan manusia. Ribuan masyarakat Sasak, tua dan muda, tumpah ruah ke pantai menanti fajar. Mereka tidak sedang menanti matahari terbit semata, melainkan menanti sebuah janji purba yang muncul dari buih ombak: Nyale.

Fenomena ini bukan sekadar aktivitas menangkap cacing laut (Eunice fucata), melainkan sebuah ritual kolosal yang memadukan mitos, astronomi tradisional, dan rasa syukur agraris. Sebagaimana dicatat dalam dokumentasi resmi, pelaksanaan Bau Nyale biasanya berlangsung pada bulan Februari atau Maret, di mana masyarakat berbondong-bondong ke pantai untuk menangkap nyale sesaat sebelum fajar menyingsing (Dinas Pariwisata NTB, 2025: Web). Namun, di balik keramaian pesta rakyat ini, tersimpan kisah tragis tentang pengorbanan seorang putri yang menjadi pondasi spiritual tradisi ini.

Legenda Sang Putri dan Janji Kedamaian

Jantung dari tradisi ini berdenyut pada legenda Putri Mandalika. Dalam memori kolektif masyarakat Sasak, Mandalika bukan sekadar tokoh dongeng, melainkan figur sentral yang rela mengorbankan dirinya sendiri demi kesejahteraan masyarakat Lombok. Hal ini ditegaskan dalam sebuah studi budaya yang menyebutkan bahwa "Putri Mandalike merupakan seorang tokoh sentral dan tokoh figur yang rela mengorbankan dirinya sendiri untuk kesejahteraan masyarakat" (Nursaptini dkk, 2019: 85).

Kisah bermula ketika kecantikan sang Putri memicu perselisihan para pangeran yang berpotensi menghancurkan kerukunan di Negeri Tonjang Beru. Dalam naskah drama Putri Denda Mandalika karya S.S.T Wisnu Sasangka, kegelisahan sang Putri terekam jelas saat ia mencoba menenangkan ayahnya di tengah kemelut itu, dengan berkata:

"Maspahit, anakku, sabarkanlah hatimu. Tenangkanlah pikiranmu... Paman, jika orang telah mengakui kesalahan dan dia berjanji untuk tidak mengulangi, Sang Hyang Widi Wasa pasti akan mengampuni orang itu" (Sasangka, 2002: 45).

Puncak dari drama ini adalah keputusan sang Putri untuk tidak memilih siapapun demi menghindari pertumpahan darah. Ia memilih terjun ke laut, meninggalkan sebuah wasiat yang terus didengungkan hingga hari ini. Dalam antologi Sastra Lisan Sasak, sumpah itu berbunyi:

"Wahai ayahanda dan ibuda serta semua Pangeran dan rakyat Negeri Tonjang Beru yang aku cintai... Aku tidak dapat memilih satu diantara Pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya nyale di permukaan laut" (Rahimsyah, 2010: 141-146).

Inilah mengapa, bagi masyarakat Sasak, Nyale adalah jelmaan tubuh suci sang Putri. Menangkapnya bukan sekadar berburu makanan, melainkan sebuah pertemuan kembali dengan leluhur yang dicintai.

Disiplin Alam dan Penanggalan Rowot

Kedatangan Nyale tidak pernah meleset, seolah alam pun tunduk pada janji sang Putri. Ritual ini terikat ketat pada perhitungan kalender tradisional Sasak atau Rowot. Menurut penelitian Isna, tradisi ini dilakukan tepat pada hari kesembilan belas dan kedua puluh bulan kesepuluh dan kesebelas dari jadwal Kalender Sasak (Isna, 2022: 975).

Ketepatan waktu ini menjadi fenomena yang menakjubkan bagi para peneliti budaya. I Made Purna dalam bukunya tentang nilai multikulturalisme mencatat kekagumannya akan fenomena ini: "Binatang-binatang itu pun disiplin. Mereka tidak akan keluar jika bukan pada waktunya. Tuhan Yang Mahaesa melengkapi dengan naluri yang mengarahkan kepada disiplin yang tinggi tanpa membantah" (Purna, 2018: 105).

Masyarakat lokal mengenal dua gelombang kemunculan cacing ini. Gelombang pertama disebut Nyale Tunggak yang keluar pada bulan kesepuluh, disusul oleh Nyale Poto yang muncul pada bulan kesebelas (Scribd/Dokumen Akademik Unram, 2024: 12). Sebelum pesta puncak digelar, para pemangku adat biasanya melakukan ritual pendahuluan. Mamiq Saladin, seorang tokoh budayawan, menjelaskan bahwa "lima hari setelah purnama, mereka keluar untuk menangkap nyale awal, kemudian mengekspresikan banyak kegiatan kebudayaan sebagai rangkaian penyambutannya" (Saladin dalam E-Prints Unram, 2024: 4).

Filosofi Kesuburan dan Solidaritas Sosial

Di balik aspek mistisnya, Bau Nyale memiliki fungsi sosial dan ekologis yang kuat. Rosiana Dewi dalam kajian sosiologisnya menyebutkan bahwa Nyale tidak cuma cacing laut biasa, namun makhluk yang dipercaya membawa kesejahteraan. "Masyarakat yakin nyale bisa membuat tanah pertanian mereka lebih produktif serta memperoleh hasil panen yang memuaskan," tulisnya (Dewi, 2022: 7). Sisa air dari wadah penampungan Nyale seringkali disiramkan ke sawah dengan harapan padi akan tumbuh subur, sebuah manifestasi dari sistem nilai budaya yang menjadi pedoman perilaku masyarakat Sasak, sebagaimana diteorikan oleh Koentjaraningrat (Koentjaraningrat, 1974: 25).

Secara sosial, tradisi ini meruntuhkan sekat-sekat kelas. Di hamparan pasir pantai, semua orang setara. Tradisi Bau Nyale mengajak seluruh masyarakat Lombok untuk mengenang dan menghargai kembali sejarah para leluhur, sekaligus menjadi momen di mana mereka dapat melepaskan rasa lelah dan mempererat kohesi sosial (Nursaptini, 2019: 6).

Tak ketinggalan, aspek kuliner menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan ini. Warga percaya cacing laut jelmaan Putri Mandalika ini memiliki khasiat serta protein tinggi (Tim Okezone, 2022: Web). Nyale biasanya dikonsumsi dengan mengolahnya dalam Pepes, sup, atau bahkan dimakan mentah sebagai bokosuwu—sejenis sambal pedas berbahan nyale mentah yang ditaburi perasan jeruk purut untuk mengusir bau amis (Jurnal Ilmiah Hospitality, 2023: Web).

Dari Ritual ke Festival Modern

Kini, Bau Nyale telah bertransformasi. Dari sekadar ritual adat, ia telah menjadi ikon pariwisata nasional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahkan telah mencatatkan tradisi ini sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, menegaskan bahwa "Tradisi Bau Nyale merupakan karya budaya yang perlu di inventarisasikan" (Kemendikbud, 2018: 5 & 28).

Pemerintah Provinsi NTB dan Kabupaten Lombok Tengah menjadikan Bau Nyale sebagai salah satu ikon promosi wisata budaya dan bahari. Seperti dilansir oleh media nasional, tradisi ini kini menjadi salah satu kekayaan budaya yang paling ditunggu-tunggu, "tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga simbol spiritual dan kebersamaan masyarakat" (Kompas.com, 2023: Web). Meski telah menjadi tontonan turis domestik dan mancanegara, esensi sakralnya tetap dijaga. Masyarakat percaya akan adanya keburukan bagi orang yang meremehkan tradisi ini, sebuah mitos yang menjaga kesakralan acara di tengah gempuran modernitas (Kompas Travel, 2023: Web).

Pada akhirnya, Bau Nyale adalah bukti hidup bagaimana sebuah janji cinta di masa lalu mampu mengikat ribuan orang di masa kini dalam satu ikatan persaudaraan, rasa syukur, dan pelestarian alam. Ia adalah monumen hidup dari Putri Mandalika yang tak lekang oleh zaman.(*)

Posting Komentar
ADVERTISEMENT
Designed by Perintis
ADVERTISEMENT
Designed by Perintis