Harga Emas Dunia Turun ke Bawah US$4.900 per Ounce, Dolar AS Menguat
Jakarta, Perintis.co.id - Harga emas dunia hari ini turun ke bawah US$4.900 per ounce seiring penguatan dolar Amerika Serikat di tengah perdagangan yang relatif sepi karena sejumlah pasar Asia libur Tahun Baru Imlek.
Dilansir dari Bloomberg, harga emas spot turun 2,3% menjadi US$4.877,87 per ounce pada Rabu (18/2/2026), atau pada perdagangan Selasa (17/2/2026) pukul 16.50 waktu New York, Amerika Serikat.
Sebelumnya, harga emas batangan mencatat reli kuat sepanjang Januari 2026 sebelum mengalami aksi jual tajam di akhir bulan. Setelah mencapai puncak di atas US$5.595 per ounce, harga emas turun cepat ke kisaran US$4.400 hanya dalam dua hari. Pergerakan ini menegaskan volatilitas yang masih tinggi di pasar logam mulia.
Sebagian besar pasar Asia tutup karena perayaan Tahun Baru Imlek, sehingga aktivitas perdagangan menjadi lebih terbatas.
Likuiditas Tipis, Pasar Tunggu Arah Dolar
Analis pasar di Forex.com, Fawad Razaqzada, menyebutkan bahwa liburnya perdagangan di China sepanjang pekan ini membuat likuiditas pasar menjadi lebih tipis.
Menurutnya, belum terlihat apakah terdapat momentum yang cukup kuat untuk menekan harga emas lebih dalam, atau justru pembeli akan kembali masuk jika dolar AS kembali melemah.
"Terdapat ruang bagi pelemahan jangka pendek seiring investor melepas posisi aset lindung nilai dan merealisasikan keuntungan ketika valuasi masih berada pada level tinggi secara historis," ujar Fawad, dikutip dari Bloomberg, Rabu (18/2/2026).
Permintaan China dan India Masih Jadi Penopang
Di sisi lain, permintaan ritel yang kuat di China dan India, dua pasar terbesar emas fisik dunia, tetap menjadi faktor fundamental yang menopang harga dalam beberapa bulan terakhir.
Data impor India menunjukkan volume impor emas dan perak mendekati rekor hingga Januari 2026. India mengimpor emas senilai lebih dari US$12 miliar pada periode tersebut, menjadikannya total bulanan tertinggi ketiga sepanjang sejarah. Impor perak juga melonjak melampaui US$2 miliar.
Kuatnya permintaan fisik ini menjadi bantalan penting saat pasar global menghadapi tekanan volatilitas.
Dolar AS Menguat, Tekan Harga Logam Mulia
Nilai tukar dolar AS sempat naik hingga 0,4% sebelum kembali stabil. Penguatan tersebut terjadi setelah dolar ditutup menguat pada Senin (16/2/2026), seiring pelaku pasar mencermati potensi ketegangan di Asia Barat atau Timur Tengah serta meningkatnya sentimen risk-off di pasar ekuitas global.
Penguatan dolar AS membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat, sehingga menekan permintaan jangka pendek.
Sejumlah bank global, termasuk BNP Paribas, Deutsche Bank, dan Goldman Sachs, memproyeksikan harga emas berpotensi melanjutkan tren kenaikan dalam jangka menengah hingga panjang, didorong faktor fundamental yang sebelumnya menopang penguatan harga.
Harga Perak Turut Anjlok
Selain emas, harga perak juga mencatat penurunan tajam. Logam tersebut sempat anjlok hingga 6% sebelum memangkas sebagian kerugian. Harga perak tercatat melemah 4,1% menjadi US$73,49.
Perak dikenal memiliki fluktuasi yang lebih tajam dibandingkan emas karena ukuran pasar yang lebih kecil dan tingkat likuiditas yang lebih rendah. Pergerakan terbaru bahkan menjadi yang paling volatil sejak 1980, baik dari sisi skala maupun kecepatannya.
Sementara itu, harga platinum dan paladium juga tercatat mengalami penurunan pada perdagangan kali ini.(red)
